Peraturan Larangan Nikah Siswa SMPN 7 Solo Tak Lumrah

Peraturan Larangan Nikah Siswa SMPN 7 Solo Tak Lumrah – Proses daftar kembali masuk SMPN 7 Surakarta pernah ramai gara-gara edaran surat pengakuan yang wajib diisi siswa baru serta orang-tua. Dikarenakan ada prasyarat ‘dilarang menikah’ dalam salah satunya klausulnya.

Peraturan itu dirasakan tak lumrah berubah menjadi prasyarat masuk SMP. Walaupun, sesungguhnya orang-tua murid sepakat apabila anaknya tak menikah pada umur SMP.

Prasyarat itu terdaftar pada nomer tiga, didalamnya ‘sanggup mentaati serta menaati aktivitas saat Saat Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) , Implementasi Wiyata Mandala, OSIS serta Tata Tertata Sekolah dan tak menikah saat menuruti pendidikan di SMP Negeri 7 Surakarta’.

Peraturan didukung dengan prasyarat nomer lima, ialah ‘Apabila saya tak mentaati tata-tertib serta keputusan yg diputuskan oleh sekolah, saya bisa terima sangsi dari sekolah’.

Kepala SMPN 7 Surakarta, Siti Latifah, membetulkan ada klausul itu. Akan tetapi ia menolak kalau peraturan itu dibikin olehnya.

” Benar memang benar ada klausul itu. Namun itu dibikin sejak mulai saya belum berubah menjadi Kepala SMPN 7 Surakarta, ” kata Siti terhadap wartawan, Rabu (10/7/2019) .

Akan tetapi ia mengaku kalau dirinya sendiri tak mengecheck lebih dahulu ada klausul itu. Sampai surat pengakuan sudah terburu tersebar serta diisi oleh orang-tua murid.

” Memang saya tak mengecheck langsung, jadi terburu keluar, ” kata ia.

Akan tetapi Siti meyakinkan udah mencoret klausul itu. Ia lantas menilainya peraturan itu tak punyai basic yg sama dengan peraturan di atasnya.

” Udah kami anulir syarat-syarat dilarang menikah itu. Orang-tua murid sudah kami kasih wawasan. Peraturan begitu tidak juga ada sangkutannya dengan peraturan di atasnya, ” ujarnya.

Disamping itu, Kabid SMP Dinas Pendidikan Surakarta, Bambang Wahyono, mengemukakan peraturan itu tak bersumber dari dinas. Akan tetapi ia memohon penduduk tak usah membahas peraturan itu.

” Memang tak ada peraturan dari dinas yg mengontrol itu. Namun kami tak mempersoalkan peraturan itu, lantaran tiap-tiap sekolah punyai peraturan sendiri, ” pungkasnya.