Komplotan Rampok Memonitor Area ATM Yang Sepi

Komplotan Rampok Memonitor Area ATM Yang Sepi – Klub Polda Metro Jaya tangkap komplotan pembobol mesin ATM yg udah 6 kali berlaga di lokasi Tangerang. Terduga merubah saklar listrik mesin ATM biar ringan dibobol.

” Sesaat yg kita terima laporannya ada 6 area ATM di wilayah Tangerang di area yg tidak sama. Sistemnya pemeran ini yaitu memonitor mesin ATM, merubah saklar mesin ATM, ” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/6/2019) .

Polisi mulainya dapatkan laporan dari bank apabila ada sejumlah mesin ATM di lokasi Tangerang yg dicuri uangnya. Peristiwa pembobolan mesin ATM itu berlangsung di 6 area dalam riskan waktu sejak mulai bulan April 2019 sampai Mei 2019.

” Ini sistemnya terduga ini bawa kartu ATM ini setelah itu dimasukan dalam mesin ATM. Buat terduga ini ambil uang maksimum umpama Rp 1 juta atau Rp 2, 5 juta. Sesudah oke berapakah banyaknya yg diambil kan kelak mesin mengalkulasi uang serta seusai bunyi mesinnya listriknya langsung dicabut, ” kata Argo.

Komplotan ini memonitor area mesin ATM yg sepi sebelum berlaga. Sebelum berlaga, banyak terduga merubah saklar listrik mesin ATM dengan saklar yg dibawa.

Saklar yg ditukar itu dapat mematikan arus listrik memanfaatkan suatu remote. Disaat terduga ambil uang serta mesin ATM tengah mengalkulasi uang itu, terduga yang lain menghimpit remote yg setelah itu menyudahi kerja mesin ATM.

” Ia matiin listrik gunakan remote. Sesuai mesin mati kan uang berada pada mulut ATM serta uang itu dicongkel gunakan kawat. Sekali congkel dapat Rp 2, 5 juta itu di satu ATM serta itu bisa banyak disana, ” kata Argo.

Banyak terduga itu ialah Ferdy (32) , Bokir (49) , Adi (29) , Dado (35) serta Suara (24) diamankan akhir bulan Juni 2019 dalam rumah semasing terduga di wilayah Cikupa, Tangerang. Polisi sampai saat ini masih periksa dengan cara mendalam banyak terduga itu lantaran terduga baru-baru ini diamankan.

Atas tingkah lakunya, banyak terduga digunakan Clausal 363 KUHP. Banyak terduga itu terancam hukuman 7 tahun penjara.